Tata Nilai Budaya Organisasi

Tata nilai budaya organisasi “boedak bungo de-jogja”:
             -  Bersahabat
              -  Saling menghargai
             -  Pembelajaran
              -  Mengutamakan intelektualitas
             -  Meningkatkan budaya kedaerahan

Visi :
   Pemersatu pemuda-pemudi Bungo Yogyakarta dalam pembelajaran organisasi untuk meningkatkan     intelektualitas individual dalam bermasyarakat serta mengenalkan kedaerahan Bungo pada masyarakat lain.

Misi :
  1.  Memberikan pemahaman kepada seluruh pemuda-pemudi Bungo Yogyakarta akan pentingnya untuk bersatu menjadi satu keluarga yang utuh.
  2. Saling memberi informasi dalam pembelajaran organisasi untuk meningkatkan kualitas intelektualitas pemuda-pemudi Bungo Yogyakarta.

Filosofi :
  Dengan bersatunya pemuda-pemudi Bungo Yogyakarta merupakan sesuatu kekuatan yang kuat dalam    mencapai tujuan organisasi dalam mengenalkan kebudayaan daerah Bungo ke masyarakat lain.

Fungsi :
   1. Sebagai ajang pembelajaran pemuda-pemudi Bungo Yogyakarta dalam meningkatkan intelektualitas individual.
   2. Sebagai tempat menyalurkan kreatifitas dan gagasan cemerlang untuk menghasilkan inovasi yang        tinggi.
   3. Sebagai tempat bertumpu bagi pemuda-pemudi bungo yang baru datang ke Yogyakarta dalam rangka akan menempuh pendidikan lanjut di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Yogyakarta.
    4. Sebagai pusat informasi pendidikan seyogyakarta untuk dapat membantu para 
calon pelajar/mahasiswa dalam memilih tempat belajar.

Sekilas UIN sunan kalijaga

Kamis, 24 Maret 2016 16:34:20 WIB
Yogyakarta-(23/03) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terima Kunjungan Silaturahmi dari Direktorat Afrika Kementerian Luar Negeri RI bertempat di Ruang Pertemuan Gedung Pusat Administrasi Umum. Kunjungan disambut langsung oleh Wakil Rektor 3 Bidang Kelembagaan dan Kerjasama, Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A., Direktur Pascasarjana, Prof. Noorhaidi Hasan, Ph.D, dan Kepala Biro AAKK, Drs. Maskul Haji, M.Pd.I. Adapun dari direktorat Afrika diwakili oleh Direktur Afrika Kemenlu RI, Lasro Simbolon dan Kasubdit Ekubang, Aris Munandar.
Silaturahmi ini bertujuan untuk membahas kerjasama antar lembaga terkait dalam bidang pendidikan. Lasro Simbolon menyampaikan bahwa seiring dengan meningkatnya perekonomian sub sahara terdapat tren peningkatan minat mahasiswa afrika untuk belajar diluar negeri khususnya di negara Indonesia. Selain itu sejumlah negara Afrika telah menyatakan keinginan untuk dapat bekerjasama dalam bentuk pendidikan baik dalam kerangka G-to-G maupun U-to-U. Selain itu kunjungan ini juga bermaksud untuk menjajaki dan memetakan Program studi apa saja yang bisa dibawa untuk bekerjasama.
Menanggapi hal tersebut, Ruhaini menyambut baik niat baik dari Direktorat Afrika. Kerja sama sangat mungkin dilaksanakan antar kedua lembaga terkait memajukan dunia pendidikan yang lebih maju, terutama nya untuk mengenalkan Islam sebagai ajaran yang Rahmatan Lil ‘alamin. UIN Sunan Kalijaga sudah banyak melakukan kerjasama serupa dengan berbagai negara seperti, German, Amerika, Iran, Arab Saudi, Malaysia dan Thailand. Sudah barang tentu besar kemungkinan diadakan kerjasama antara UIN Sunan Kalijaga dengan Negara Afrika dengan pembahasan MoU lebih lanjut. (Doni TW-Humas)
http://uin-suka.ac.id/id/berita/detail/1178/silaturahmi-direktorat-afrika-ke-uin-sunan-kalijaga-yogyakarta

Tournament Futsal Siginjai Cup 2016 Bungo-Jambi Yogjakarta



 TURNAMENT FUTSAL SIGINJAI CUP 2016
OLEH
KELUARGA PELAJAR MAHASISWA BUNGO-JAMBI YOGYAKARTA

             Yogyakarta, 02-03 januari 2016 telah berlansung Turnament Futsal Siginjai Cup 2016 dalam rangka memperingati hari ulang tahun Organisasi Keluarga Pelajar Mahasiswa Bungo-Jambi Yogyakarta, adapun peserta turnament terdiri dari organisasi daerah yang berada di yogyakarta,dari Pulau Sumatra Seperti Sumatra Barat, Riau, Bangka Belitung, Lampung. Pulau Jawa seperti Ngawi, Imogiri. Kalimantan seperti  Kalbar, Kaltim, Berau. Ntb seperti Bima, Dompu, Lombok. Sulawesi seperti Gorontalo dan Maluku, serta organisasi-organisasi daerah lainnya setingkat kabupaten maupun provinsi yang di Yogyakarta.
              Turnament Siginjai Cup memakai sistem gugur dengan total 32 peserta dilaksanakan selama dua hari. Acara turnament ini diadakan oleh mahasiswa-mahasiswi bungo yang berada di Yogyakarta tergabung dalam Organisasi Keluarga Pelajar Mahasiswa Bungo-Jambi Yogyakarta, dengan tujuan  mengangkat budaya daerah dan memperkenalkan Kabupaten Bungo kepada teman-teman mahasiswa daerah lain yang berada diyogyakarta, itulah yang mendasari pemberian nama turnament tersebut “Siginjai Cup”. Nama siginjai ini sudah tidak asing lagi ditelinga masyaraka Jambi khususnya bungo sebagai budaya leluhur berbentuk keris yang dimiliki oleh pahlawan jambi yaitu  Orang Kayo Hitam. Setiap acara yang diadakan oleh Keluarga Pelajar Mahasiswa Bungo-Jambi Yogyakarta selalu menjunjung tinggi budaya daerah jambi khususnya budaya daerah kab. Bungo, contohnya Siginjai Cup.
                Laga Turnament Futsal Siginjai Cup 2016 yang Pada akhirnya mempertemukan antara Bima (NTB) VS Kalimantan barat sebagai laga pamungkas (Final), dimenangkan oleh Bima (NTB) Dengan score 3-1, kemudian juara III diraih oleh team bangka (Bangka belitung) seusai melawan team formasi bima ( NTB).
               Acara berlangsung dengan meriah tanpa ada kendala yang berarti dan direspon positif oleh seluruh peserta Turnament Siginjai Cup 2016. Siginjai cup rencananya akan dilaksanakan rutin setiap tahun yang menjadi salah satu program organisasi Keluarga Pelajar Mahasiswa Bungo-Jambi Yogyakarta dan tentu saja mengharapkan respon yang baik pula oleh pemerintah daerah kabupaten Bungo,agar mahasiswa-mahasiswi Bungo yang berda di Yogyakarta dapat terus memperkenalkan budaya daerah kabupaten Bungo khususnya di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota budaya.
Penulis : Chikal Nover Hardeson ( Wakil Ketua Keluarga Pelajar Mahasiswa Bungo-Jambi Yogyakarta).

 PERTANDINGAN BERLANGSUNG

Description: E:\TURNAMEN\IMG_6911.JPGDescription: E:\TURNAMEN\IMG_6680.JPG
Description: E:\TURNAMEN\IMG_6999.JPG                       
Description: E:\TURNAMEN\IMG_7005.JPG

Description: E:\TURNAMEN\IMG_6736.JPG

Foto-Foto Kegiatan BBDJ (Boedak Bungo De-jgja)


 Foto Bersama, Milad BBDJ ( Boedak Bungo Dejogja)
                       



Foto Bersama Boedak bungo Dejogja
Foto 

Foto

Para Tamu Undangan yang Hadir Pada Acara Milad BBDJ
Pemotongan Nasi Tumpeng
Foto

Foto Kata Sambutan Dari Ketua BBDJ

BBDJ DI G.MERBABU



BBDJ DI G.MERBABU

Ø persiapan
Dua minggu sebelum melaksanakan kegiatan seperti biasanya kami mengadakan pertemuan dan rapat persiapan,seperti biasanya juga kami saling adu pendapat sampai pada akhirnya mencapai keputusan.
Dengan persiapan yg bisa dibilang matang sampailah kami pada harinya,mulai berkumpul di salah satu pom bensin di  jl.malegang kami semua diabsen dan dicek kelengkapan,setelah semuanya beres kami berangkat ke basecamp wekas.di basecamp wekas kita lakukan lagi absen,cek perlengkapan dan tidak lupa berdoa kepada yg maha kuasa.

Ø Perjalanan pergi
Saat itu pukul 16.00 wib 20 pejuang BBDJ yang terdiri dari mahasiswa baru,mahasiswa abadi,legenda kampus dan tua renta memulai petualangannya.pendakian kami mulai dengan track yg terus menanjak tentu jg banyak menghabiskan tenaga,sekali2 kami bercanda,kami tertawa,kami saling memberi semangat satu sama lain layaknya sebuah keluarga.ketika kalimat “bbdj gooo.!!!” di ucapkan ketua kami, ada semangat yg membara dan jiwa pantang menyerah megalir di darah kami hahaha.begitulah cara kami mengusir penat dan tentu saja semuanya akan terasa ringan bila bersama,bersama bbdj tentunya.
4 jam pendakian yg telah melelahkan kaki,tangan,dan seluruh tubuh kami sampailah di pos 2 pukul 20.00 wib di temani rintik-rintik hujan dan angin malam yg menusuk tulang, pemuda perkasa bbdj dengan sigap mendirikan 4 tenda dome,harusnya malam itu kami mengadakan acara diskusi mengelilingi api unggun tapi sayang cuaca tidak mendukung.kami semua diharuskan tidur dan beristiharat malam itu sebab kami masih harus melakukan pendakian ke puncak di pagi harinya.



    foto di camp ground

Pagi harinya sekitar pukul 08.00 wib kami semua memulai lagi pendakian,kali ini lebih ringan karna beban yg kami bawa kami tinggalkan di tenda dome,yang kami bawa hanya persedian air minum dan semangat tentunya.”bbdj goo..!!” lagi2 kalimat itu mampu membakar semangat kami
 
Setelah melewati pos watu tulis dimana ketua kami mengukir nama BBDJ di salah satu lembah.alam mulai menguji kekuatan fisik dan mental,kabut mulai datang  yang tentu saja membatasi penglihatan kami dimana saat itu kiri dan kanan kami adalah jurang yang curam,ditambah angin yang bertiup kencang seolah ingin menerbangkan kami pulang ke pangkuanNYA.alam yang tadinya kami lihat dengan indahnya tiba2 menjadi mencekam dan menakutkan. “gunung menampakkan keindahan nan menawan,namun sewaktu-waktu bisa mengamuk dan menjadi mengerikan” –Viram gunawan.
Dengan kekompakan bbdj kami semua menembus badai,badai tersebut kami belah dan hancurkan dengan semangat bukan nekat.kami berlindung di batu besar,di celah celah jalur air,dan berlindung kepada yang maha kuasa.akhirnya sampailah kami ke salah satu dari 3 puncak g.merbabu yaitu puncak syarif.
 
“ini puncak yg kami daki bukan yg kami cari,sesungguhnya puncak yg sejati adalah pulang kerumah dengan selamat” -Chikal nover hardeson

Sebetulnya ada dua puncak lagi namun apa daya alam belum merestui kami menggapai puncak tertinggi di g.merbabu,tapi tak apalah bagi kami yg masih amatiran ini sudah lebih dari cukup. “bukan panggilan hati,bukan juga soal gengsi,kami hanya seorang manusia yang ingin menikmati lukisan sang illahi” –chikal nover hardeson





Ø Perjalanan turun

setelah puas melaksanakan ritual foto-foto di puncak syarif,pukul 13.00 wib kita semua kembali ke camp ground.badai tadi yang kita lewati akhirnya telah berakhir ,pemandangan indah ala g.merbabu tersaji di depan mata kami tak henti-henti kami memuji alam dalam setiap langkah kecil kami.

Di perjalanan turun sepertinya tak ada hambatan,semua telah berkumpul di camp ground namun ada beberapa rekan kami yg belum sampai ke camp ground,mereka terlambat di karenakan salah seorang teman kami kehilangan semangat,dimana semangat itu adalah modal dasar dalam acara latihan kepemimpinan kali ini,untungnya seorang rekan kami itu bersama beberapa senior bbdj yg dikenal mampu membakar semangat teman-teman.dan akhirnya sampai lah mereka yg terlambat tadi.pukul 17.00 wib setelah absen dan cek kelengkapan kami segera turun ke basecamp mengingat hari yang sudah mulai gelap.
Sampailah kami di basecamp pukul 19.30 wib,kami semua beristirahat dan mengisi perut yg keroncongan.sambil santai kami mengutarakan kesan-kesan pendakian kali ini,tubuh yang letih kami tutupi dengan seyuman lebar yang bersahabat.walau acara inti dari pendakian ini bisa dibilang gagal,namun kami banyak sekali mendapatkan pelajaran dari g.merbabu. “tanggung jawab,kejujuran,dan usaha.sesungguhnya gunung itu guru yang baik” –Viram gunawan
Terima kasih bbdj kalian luar biasa,kalian adalah keluarga,kalian istimewa.banyak hal yang dilalui bersama bbdj banyak hal pula pelajaran positif yang didapat.sekali pun langit runtuh benderamu akan tetap berkibar membawa kabar.


Penyusun : Chikal nover hardeson

keputusan BBDJ terhadap rencana pemekaran kabupaten bungo

BBDJ
KELUARGA PELAJAR MAHASISWA BUNGO-JAMBI YOGYAKARTA

Rencana Pemekaran Kabupaten Bungo
Dalam beberapa tahun terakhir ini dari 2014-2015 muncul isu hangat tentang akan diadakannya pemekaran daerah di Kabupaten Bungo, yaitu pembentukan wilayah administratif  baru Kabupaten Bungo dan Kota Madya Muara Bungo. Hal tersebut ditanggapi serius oleh organisasi boedak bungo de_jogja (organisasi pelajar dan mahasiswa Bungo di Jogja) dengan melakukan diskusi yang telah dilakukan beberapa kali, yakni tanggal 13 januari, 20 februari dan 16 maret sehingga lahirlah keputusan organisasi pada tanggal 02 april 2014
            Pemekaran daerah di Indonesia adalah pembentukan wilayah administratif  baru di tingkat Provinsi maupun kota dan Kabupaten dari induknya. Landasan hukum terbaru untuk pemekaran daerah di Indonesia adalah UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Telah banyak daerah-daerah yang melakukan pemekaran daerah dengan berbagai macam alasan dan tujuan, ada yang memang untuk kesejahteraan masyarakat dan ada pula yang hanya ingin membangun ruang kekuasaan baru bagi orang yang berpengaruh kuat di suatu daerah atau dengan tujuan tertentu. contoh pemekaran yang pernah terjadi Bungo -Tebo yang telah dimekarkan menjadi Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo.
            Dalam kajian teori setidaknya harus ada dua tujuan fundamental yang wajib menjadi dasar pemekaran suatu wilayah, tujuan pertama yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan yang ke dua yaitu mempercepat pelayanan publik disuatu daerah yang hendak di mekarkan. Yang dimaksud tujuan yang pertama dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah hendaknya pemekaran suatu wilayah dapat memberikan efek meningkatnya kesejahteraan baik di bidang ekonomi yang artinya meningkatnya penghasilan masyarakat serta terbukanya lapangan pekerjaan baru, baiknya sarana publik seperti jalan dan sarana penting lainnya. Hendaknya sejahtera di bidang pendidikan yang artinya pemekaran suatu wilayah hendaknya membuat semua anak dapat menempuh pendidikan dengan baik dan layak sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah yang hendak di mekarkan tersebut. Sedangkan yang dimaksud tujuan yang kedua yaitu mempercepat layanan publik adalah hendaknya dengan terjadinya pemekaran disuatu wilayah membuat masyarakat semakin dekat dan cepat dalam mengurus semua urusan yang bersifat administratif, baik itu perizinan dan berbagai macam kegiatan adminitratif penting lainnya. Jika tujuan dari suatu pemekaran wilayah tidak memenuhi dua syarat esensial diatas maka itu dapat dikatakan sebagai sosialis lokal (orang yang ingin memecah-mecah daerah). contoh tujuannya hanya untuk kepentingan politik, atau hanya untuk kepentingan elit-elit yang berpengaruh maka itu tidak seharusnya dilakukan pemekaran.
            Setelah melihat berbagai teori dan pemahaman realitas di Kabupaten Bungo serta melalui diskusi yang panjang maka organisasi boedak bungo de_jogja (BBDJ) menolak dilakukannya pemekaran Kabupaten Bungo menjadi Kota Madya Muara Bungo dan Kabupaten Bungo dalam waktu dekat, dikarenakan jika menilik tujuan pertama dalam kajian teori dan analisa kenyataan, jika Kabupaten Bungo tetap melakukan pemekaran tentu akan menimbulkan masalah baru karena adanya perbedaan kesejahteraan yang sangat menonjol di masyarakat, kalangan elit akan sangat sejahtera dan kalangan bawah akan semakin sulit, lebih baik membenahi yang ada daripada memulai dari awal lagi. Harusnya dalam menghadapi masalah yang sangat kompleks di Kabupaten Bungo seperti masih terdapat daerah kurang mendapat infrastruktur yang baik pemerintah harus melakukan Good Goverments dalam melakukan semua kebijakan pemerintahan, harus lebih jeli dan lebih efisien dalam membuat kebijakan, contohnya tidak memusatkan pembangunan hanya di suatu kecamatan saja, membuat analisis terlebih dahulu daerah mana yang harus diutamakan untuk di bangun secara baik, mewajibkan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah Kabupaten Bungo untuk berkontribusi dalam mensejahterakan masyarakat dengan cara membuka lapangan kerja bagi masyarakat Bungo, melakukan pelatihan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bertani yang benar,  sehingga lahir lapangan pekerjaan yang cukup, meningkatnya hasil produksi masyarakat. Dan yang kedua jika tetap terjadi pemekaran yang jadi pertanyaan besar di mana kota administratif yang strategis akan di letakkan, karena ini berkaitan dengan pelayan publik yang harus efisien, misalnya saja jika di letakkan kota administratif di Kecamatan Jujuhan tentu masyarakat yang dari kecamatan Pelepat Ilir, Pelepat dan juga Limbur keberatan, begitu juga kebalikannya. Masalah seperti ini jangan dianggap remeh karena penempatan daerah adminitratif dapat memicu konflik antar pihak, kenapa kota administratif tidak di letakkan di kota mereka. Dan alasan yang terakhir yaitu menurut hemat kami sumberdaya manusia di Kabupaten Bungo belumlah siap jika dilakukan pemekaran daerah.
            Namun dari semua alasan diatas boedak bungo de_jogja (BBDJ) menyarankan jika pemekaran memang harus dilakukan dalam waktu dekat maka harus ada tim ahli yang bersifat independen serta tidak mempunyai kepentingan untuk mengaudit apakah Kabupaten Bungo layak di mekarkan menjadi daerah otonomi baru yang menjadi Kaupaten Kota Madya Muara Bungo dan Kabupaten Bungo.
            Organisasi boedak bungo de_jogja (BBDJ) mengajak semua pihak agar lebih mementingkan kesejahteraan dan menjaga persatuan masyarakat Bungo, jangan hanya memajukan sebagian golongan saja. “jangan nak gemuk surang, kalu bisa harus kenyang galo-galo”

Penyusun : Budi aksoni

Adat Istiadat Kebudayaan Muara Bungo

KARAKTERISTIK WILAYAH KABUPATEN MUARA BUNGO

http://www.infobungo.com/
Wilayah adat Kabupaten Bungo yang kini kita kenal Kaabupaten Bungo pada masa pemerintahan Belanda dahulu, termasuk kedalam wilayah bekas Onder Afdeeling Muara Bungo. Disamping itu, sudah diketahui bahwa penduduk yang mendiami atau berdiam dalam bekas Onder Afdeeling Muara Bungo, menyebut dirinya orang batin.
Menurut H. M. Thaib, RH anggota penasehat Lembaga Adat Privinsi Jambi, dalam makalahnya menyebutkan orang batin itu adalah penduduk asli yang berasal dari Melayu Tua yang mendiami anak-anak sungai Batanghari.

1.2.1.     Pola pemukiman

Pada umumnya rumah di pemukiman asal ( desa ) berbentuk rumah adat, atapnya berbentuk kajang lako dengan bubung lekung. Rumah adat ini bertiang tinggi dan tiak terletak di atas sendi batu. Dibawah rumah adat menyimpan barang – barang atau keperluan rumah tangga.

1.2.2.     Adat membangun rumah
Pembangunan diatas tanah batin harus memberitahu kepala dusun atau Rio, dan tetap milik dan langsung diurus atau dipegang oleh batin.
Ada beberapa persyaratan penegakan rumah, yaitu memotong hewan dan darahnya dipercikkan pada tiang tengah, ada gantungan kelapa, tebu, pisang dan lain – lain, namun syarat – syarat seperti ini telah beransur menghilang. Begitu pula dari bentuk rumah itu sendiri, dari bentuk    bertiang tinggi, kini rumah itu tidak bertiang lagi ( disebut rumah depok )

1.2.3.     Kebudayaan tanah Adat/Marga/Ulayat

Di Kabupaten Bungo tanah Adat atau batin masih ada, pertama ; tanah – tanah menurut sepanjang batang air ke hilir dan ke hulu dusun, itu tanah batin untuk empat anak negeri, baumo atau beladang, tidak boleh ditanam dengan tanaman keras dan kedua ; hutan rimbo di talang itu kepunyaan batin setempat, menurut batas – batas tertentu dengan daerah – daerah sepadannya, keair nan bepadan lentak, ke darat nan bersepadan mentaro.

1.2.4.     Adat secara umum

Secara umum norma dan nilai adat istiadat yang dianut masyarakat Kabupaten Muara Bungo relatif sama dengan Kabupaten lain dalam Provinsi Jambi yaitu ”adat bersendi sarak, sarak bersendi kitabullah, sarak mengato adat memakai”. Namun demikian perbedaan – perbedaan itu terletak pada dialeg dan perbedaan arti atau pemakaian kata – kata tertentu yang dalam adat dikenal dengan ”adat samo iko pakai balain”. Oleh karena itu adat dipegang oleh ninik mamak secara turun temurun dan dipatuhi oleh penduduk yang berdiam dalam wilayah persekutuan Hukum Adat Bungo. Adat Istiadat itu tidak pernah bertentangan dengan peraturan-peraturan pemerintah, karena antara nenek mamak selaku pemegang adat selalu ada kerja sama dan saling pengertian dengan pihak pemerintah. Yang dikenal dengan seloko adat yang berbunyi : Adat ditangan Nenek Mamak Undang ditangan Rajo ( Pemerintah ).
Sebagai penuntun perikehidupan dalam masyarakat adil dan makmur, bahagia lahir batin didunia dan akhirat, maka dikenal dengan seloko adat yang berbunyi : Adat bersindi syarak, syarak bersendi kitabullah. Syarat mengato, adat memakai
Kedua seluko adat tersebut diatas memperlihatkan jalinan yang erat antara adat, agama dan aturan pemerintah. Demikian pula, antara pemimpin adat, ulama dan pemerintah. Dalam bahasa adat, ikatan yang erat itu disebut Tali nan bapintal tigo.

1.3. ADAT ISTIADAT DALAM MASA TRANSISI

Adat istiadat telah terbukti mampu mempersatukan masyarakat dalam menata kehidupan lebih baik, sopan, santun yang berdasarkan ” adat bersendi syara, sara bersendi kitabullah”.
Upacara – upacara adat di Kabupaten Muara Bungo pada pokoknya terdiri dari tiga macam :
1.     Upacara yang bersifat religius magis
2.     Upacara yang bersifat kebesaran
3.     Upacara yang bersifat karya
Keterkaitan dengan sociobiologis terutama merawat anak dan pendidikannya bahwa didalam adat dikatakan, baris di jawat dari nan tuo, halifah dijunjung dari nabi, manalah waris nan dijawat dari nan tuo utang/kewajiban orang tua kepada anak sebagai berikut:
1.     Nuak ( nujuh bulan ) dan diazankan dikuping setelah anak lahir
2.     Mandi kayik ( akikah )
3.     Tindik dabung
4.     Sunat Rasul
5.     Mengantar anak mengaji ( pendidikan ) setelah berumur 7 tahun
6.     Mengantar anak kerumah tangga
Bahwa pada setiap kegiatan acara mulai dari nuak azan bayi baru lahir, mandi kayik, cukuran, akikah, tindik dabung dan sunat Rasul senantiasa diadakan acara – acara khusus, dan mempunyai makna – makna tersendiri, dimana sejak awal telah di isi dengan nuansa pendidikan agama. 
Sebagai cikal bakal membentuk pribadi yang luhur, bertaqwa, sopan santun, dengan arti kata mulai dari kandungan sudah dilakukan dengan didikan rohani dan jasmani dalam membentuk jati diri sebagai insan yang berbudi luhur dan bersopan santun terhadap kedua orang tua dan masyarakat dalam mengarungi kehidupan didunia dan akhirat, sesuai dengan tuntutan adat dan syara. ( Lembaga Adat Provinsi Jambi, 2003 : 81 )